Minggu, Oktober 11, 2009

Pertumbuhan Pers di Kota Tasikmalaya, 1920-1942

Oleh: Miftahul Falah

Di Kota Tasikmalaya, pertumbuhan pers sejalan dengan pertumbuhan pers di Hindia Belanda seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Namun demikian, di Kota Tasikmalaya pertumbuhan pers Indonesia lebih menonjol dibandingkan dengan pers Belanda dan pers Melayu Tionghoa. Mengacu pada katalog surat kabar Perpustakaan Nasional, di Kota Tasikmalaya tidak ditemukan surat kabar yang merepresentasikan sebagai pers Belanda atau pers Melayu Tionghoa. Akan tetapi, masyarakat Kota Tasikmalaya mengenal kedua corak pers tersebut sebagai pembaca atau pelanggan surat kabar yang terbit di luar Kota Tasikmalaya.
Dalam kurun waktu 1920-1942, surat kabar yang terbit di Kota Tasikmalaya berjumlah sekitar 18 buah, baik yang menggunakan bahasa Sunda maupun bahasa Indonesia. Dalam kurun waktu yang sama, surat kabar dan majalah yang terbit di Jawa Barat berjumlah sekitar 66 buah (Burdansyah, 2009: 2-3). Dengan demikian, sekitar 27% pers Indonesia di Jawa Barat terbit di Kota Tasikmalaya sehingga tidaklah berlebihan kalau Kota Tasikmalaya memegang peranan penting dalam pertumbuhan pers Indonesia setelah Kota Bandung. Namun demikian, pers yang terbit di Kota Tasikmalaya rata-rata berumur pendek, yakni antara 1-3 tahun.
Dari 18 surat kabar dan majalah yang terbit di Kota Tasikmalaya, 14 di antaranya dicetak oleh percetakan (drukkerij) yang ada di Kota Tasikmalaya, yaitu Galoenggoeng, Djoendjoenan, Soekapoera, dan Pemandangan. Selebihnya dicetak oleh percetakan di luar Kota Tasikmalaya. Drukkerij Galoenggoeng, yang terletak di Jln. Dr. Soekardjo, didirikan oleh Haji Sobari yang memiliki hubungan dekat dengan tokoh-tokoh gerakan Islam, terutama dengan kalangan Tarekat Qadariyah Naqsyabandiyah. Pada akhir tahun 1930-an, Haji Sobari membuka cabang percetakan di Kota Bandung. Sementara itu, Drukkerij Pemandangan didirikan leh R. H. O. Djunaidi, seorang pengusaha asal Manonjaya yang juga mempunyai hubungan dekat dengan tokoh-tokoh gerakan Islam (Muzakir, 2006: 14). Meskipun demikian, kedua percetakan ini tidak hanya mencetak surat kabar yang bernafaskan Islam, tetapi juga mencetak surat kabar sekuler. Foto do bawah ini adalah halaman muka surat kabar yang terbit di Kota Tasikmalaya dalam kurun waktu 1920-1942 (berdasarkan katalog Koleksi Surat Kabar Langka Perpusnas RI, Jakarta).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berilah komentar, saran, atau kritik di sini untuk memperbaiki blog ini!